Home
kpusda
Resensi Buku : Masa Depan Partai Islam di Indonesia

Resensi Buku : Masa Depan Partai Islam di Indonesia


Selasa, 2016-08-02 - 11:01:31 WIB

Selasa, 02 Agustus 2016

Oleh : Syam Rahmanto, S.IP.

Staf Bagian Teknis Pemilu dan Hupmas

Maraknya kelahiran partai-partai Islam menjadi salah satu penanda terbukanya keran-keran kebebasan di era Reformasi. Kebangkitan politik aliran Islam menandaskan saluran aspirasi politik umat Islam tidak lagi hanya bermuara kepada PPP saja. Selain itu, dalam pembelahan aliran Islam berikutnya, tampilnya wajah baru gerakan Tarbiyah yang bertransformasi menjadi PK(S) menunjukkan performa politik Islam baru di luar basis kekuatan Islam yang telah mapan, NU dan Muhammadiyah.

Terlepas dari pemilahan aliran dalam Islam, entah itu tradisional, modern maupun pembaruan, para elit politik mendirikan partai dengan asas maupun simbol Islam tentunya mengandung kalkulasi politik. Kalkulasi tersebut berangkat dari konsekuensi logis mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam yang tentunya sangat berpotensi menyalurkan suaranya pada partai yang mengindentifikasikan dirinya sebagai partai Islam. Sayangnya, realitas politik tidak selalu berbanding lurus dengan realitas sosiologis. Meskipun Islam sebagai agama mayoritas yang dianut bangsa Indonesia, secara politik terhitung minim. Keterangan demikianlah yang oleh sebagian ilmuwan politik dianggap sebagai “paradoks elektoral”. Mengapa demikian?

Pertanyaan di atas merupakan salah satu pembahasan penting yang coba dijawab dalam buku “Masa Depan Partai Islam di Indonesia”. Buku yang diprakarsai LIPI ini merupakan sebuah refleksi dengan membaca trend yang berlalu dan coba mengurai masa depan partai Islam dari sudut pandang volatilitas elektoral. Volatilitas elektoral (VE) memfokuskan pembahasan pada pergeseran suara partai politik dari satu pemilu ke pemilu berikutnya. Ringkasnya, buku ini mencoba menggambarkan perbandingan perolehan suara keseluruhan atau pun masing-masing partai Islam dalam setiap kontestasi pemilihan umum.    

Partai Islam disini merujuk pada pada partai yang secara tegas mencantumkan Islam sebagai ideologi dalam AD/ART (PAN, PPP, PBB, PKS), maupun partai yang tidak menuliskan dalam konstitusinya namun simbol dan latarbelakang berdirinya tidak terlepas dari Islam sebagai identitas yang melekat dalam diri partai (PKB).

Selain perbincangan mengenai volatilitas elektoral, buku ini juga menyajikan analisis eksplanatif atas faktor-faktor yang mempengaruhi volatilitas suara partai-partai Islam. Di samping itu, salah pertanyaan kunci yang hendak dijawab dalam buku ini sebagaimana telah disinggung di awal tulisan adalah mengapa mayoritas Islam secara sosiologis tidak bisa dikonversi menjadi mayoritas Islam politik? 

Fakta partai-partai Islam masih minoritas secara politik dapat dilacak dari Empat kali Indonesia menjalani pemilihan umum pasca reformasi. Penggabungan suara dari sembilan partai Islam yang mengikuti kontestasi Pemilu tahun 1999 hanya mencapai 37,59. Pada tahun 2004, suara kumulatif partai-partai Islam hanya naik 0,95% dengan pencapaian 38,54%. Pada penyelenggaraan pemilu 2009, suara partai-partai Islam menurun drastis hanya berkisar 25,94%. Pada pemilu terakhir 2014 kemarin, suara kumulatif partai-partai Islam naik menjadi 31,39%. Kenyataan ini menunjukkan kecenderungan partai-partai Islam masih minoritas secara politik.

Buku ini terbagi menjadi 7 bab. Bab pertama, “Masa Depan Partai Islam Era Reformasi: Sebuah Prespektif Analisa”, bertindak sebagai pengantar yang mengulas partai Islam dan pemilu di Indonesia dari prespektif volatilitas dari pemilu ke pemilu serta faktor-faktor pendorongnya. Dalam pengantar ini pula disebutkan alasan memilih partai Islam sebagai obyek analisis dan sistematika penulisan buku.

Bab kedua, “Dinamika Partai Politik Islam di Indonesia: Prespektif Historis”. Bab ini menekankan uraian atas keberadaan partai-partai Islam dari sisi sejarah semenjak pra kemerdekaan, kemerdekaan hingga pasca reformasi.

Pada ulasan lebih lanjut, bab ke tiga hingga ke enam menekankan pembahasannya pada analisis masing-masing empat partai Islam, yaitu PKB, PAN, PPP dan PKS. Pemilihan diskursus lebih mendalam atas empat partai tersebut didasarkan pada perolehan suara pada setiap pemilu pasca reformasi yang relatif masih dapat bertahan dan memiliki perwakilan di parlemen. Sedangkan partai-partai Islam lainnya banyak yang tersingkir karena tidak bisa memenuhi target parlementarry treshold (PT).

Bab terakhir, yakni bab 7 berjudul “Masa Depan Partai Islam di Indonesia: Sebuah Catatan Penutup”. Syamsuddin Haris sebagai penulis merangkai berbagai ulasan yang telah dikemukakan sebelumnya.  Terlebih dahulu dia memulai pembahasan pada relasi Islam dan politik yang tidak bisa dipisahkan dari pergulatan sejarah awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, khususnya terkait perdebatan Islam vs Nasionalis; termarjinalkannya Islam secara politik di era otoriter Soeharto serta euforia kebangkakitan Islam mengekspresikan kebebasan melalui partai politik. Dalam catatan penutup tersebut, Syamsuddin Haris juga mengemukakan beragam faktor internal dan eksternal kegagalan elektoral partai Islam. Faktor internal meliputi : organisasi dan kelembagaan partai, polarisasi politik dan kepemimpinan, identitas dan disorientasi ideologi sehingga kehilangan daya jual, kinerja elektoral partai yang kurang optimal. Sedangkan faktor eksternal meliputi: transformasi sosio-kultural, internalisasi nilai-nilai dan simbol Islam di partai nasionalis, dan terakhir faktor struktur politik yang berlaku, seperti sistem pemilu dan kepartaian.

Melacak dari pengalaman empiris partai-partai Islam dalam empat kali pemilu, menariknya, Syamsuddin Haris mensinyalir kecilnya peluang mengonversi mayoritas Islam secara sosiologis ke Islam secara politis. Akhirnya, orientasi elit politik Islam dari sekedar memenangkan pemilu harus beralih pada peningkatan kualitas kehadiran dan kontribusi partai-partai Islam bagi tumbuh kembangnya demokrasi yang lebih adil, akuntabel dan berintegritas. Sehingga, konsep pemahaman partai Islam atau bukan lebih samar dan konstituen lebih melihat sepak terjang dan kualitas partai itu sendiri. Sekali lagi terlepas dari partai Islam atau tidak.   

Sebab buku ini disusun oleh LIPI, bahasa yang digunakan dalam buku ini bersifat akademis dengan pertimbangan siap dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Keunggulan buku ini akan mengantarkan pemahaman lebih holistik dan ilmiah daripada menerka-nerka eksistensi partai Islam dalam Pemilu yang cenderung minoritas. Gamblangnya, dengan membaca buku ini kita akan menemukan alasan-alasan rasional dan empirik mengapa partai Islam secara politik minoritas dan bagaimana prediksi partai Islam di Indonesia.

Kekurangan yang mungkin mudah terungkap dari buku ini berkisar pada kurang padunya alur pembahasan partai-partai Islam dari sudut pandang faktor volatilitas elektoral dalam beberapa bab yang mengupas partai-partai secara terpisah. Kebanyakan masih mengungkap deskripsi yang lebih gemuk dalam tulisan dari pada faktor eksplanasi volatilias elektoral. Hal ini terkadang agak kurang mendukung pengantar dan penutup tulisan yang sangat luar biasa. Adalah wajar ketika mengingat penulisan buku ini dilakukan oleh banyak penulis.

Terakhir, buku ini layak dibaca karena di dalamnya memuat analisis volatilitas partai-partai Islam antar pemilu yang masih minim terdapat literatur yang secara serius mengupasnya. Selain itu, beragam pendekatan-pendekatan teoritis dalam menganalisis volatilitas partai-partai Islam menjadi nilai tawar yang semakin membuat buku ini layak dipelajari. Terutama bagi kalangan elite partai Islam sebagai bahan perenungan dan juga mahasiswa dan dosen sebagai bahan kajian serta masyarakat secara umum yang memiliki ketertarikan kepada persoalan partai-partai Islam.   

Judul Buku                   : Masa Depan Partai Islam di Indonesia

Editor                          : Moch. Nurhasim

Tim Penulis                  : Moch. Nurhasim

                                    Lili Romli

                                    Sri Nuryanti

                                    Luky Sandra Amalia

                                    Ridho Imawan Hanafi

                                    Devi Darmawan

                                    Syamsudin Haris

Penerbit                       : Pustaka Pelajar

Jumlah Halaman            : 314

Tahun Terbit                :  2016

Download di sini


Share Berita


Komentari Berita