Home
kpusda
PUASA DAN PRODUKTIVITAS KERJA DI KPU SIDOARJO

PUASA DAN PRODUKTIVITAS KERJA DI KPU SIDOARJO


Jumat, 2016-06-24 - 09:14:36 WIB

Jum'at, 24 Juni 2016

Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.Pd ; Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo

Beberapa hari yang lalu secara tidak sengaja membaca sebuah berita di salah satu media online tentang kekaguman Paul Grigson, seorang Dubes Australia yang beragama katholik,  terhadap umat Islam atas kemampuannya menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.   Bahkan saking kagumnya terhadap umat Islam, Dubes Australia menjadwalkan akan mengadakan acara buka puasa 8x dalam bulan Ramadhan ini. “Berpuasa jelas sangat  menantang. Untuk beberapa hari pertama, saya rasa saya sangup-sangup saja, tetapi minggu kedua, ketiga dan berikutnya, waah. Karena itu saya sangat salut terhadap umat islam, mereka kuat,“ pujinya.

Maka sesungguhnya pernyataan Paul Grigson tersebut, menjadi hal yang wajar karena dirinya seorang katolik, tapi sesungguhnya bagi umat Islam tidak hanya menunjukkan  kemampuan kita berpuasa sebulan penuh, tapi juga harus mampu meningkatkan  produktivitas kita bekerja. Puasa tidak boleh dijadikan alasan untuk malas-malasan dan tidur-tiduran. Bukankah dengan bermalas-malasan dan tidur-tiduran pada saat puasa   malah justru menjadikan kita lemas dan merasa tidak kuat menjalankan puasa.

Bila kita menengok ke zaman Rasulullah, maka akan kita jumpai banyak sekali kejadian- kejadian yang menunjukan etos kerja yang luar biasa dari umat Islam. Bukankan perang Badar terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Perang Badar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa dalam sejarah Islam. Perang yang tidak sebanding dari segi jumlah, antara umat Islam dan kaum Qurais, yakni antara 300 orang kaum muslim melawan hampir 1000 orang kafir Qurais. Belum lagi kondisi padang pasir yang begitu panasnya, paling tidak menguras tenaga dan menimbulkan dahaga yang luar biasa, tetapi umat Islam mampu memenangkan peperangan dengan gemilang dan bukankah kemerdakaan bangsa kita yang kita peroleh dengan perjuangan fisik juga kita dapatkan bertepatan di bulan Ramadhan.

Dalam kajian sosiologi akan keterkaitan antara ibadah seseorang dengan spirit dalam meraih  keberhasilan dalam kehidupan, Puasa -begitu juga ibadah yang lain- justru pendorong bagi umat yang menyakininya. Korelasi tersebut muncul karena keyakinan mendalam para pemeluk agama dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntunan agamanya. Ada  beberapa alasan kenapa berpuasa meningkatkan etos kerja :

Pertama, ibadah-ibadah yang dilakukan pada bulan Ramadhan berbeda ganjarannya dengan ibadah yang dilakukan di luar bulan Ramadhan artinya bahwa pada bulan Ramadhan, setiap kewajiban amalnya dikalikan 70. Ibadah sunnahnya dinilai sama dengan ibadah wajib, dan ibadah wajibnya dikalikan 70, sebagaimana hadist Rasulullah SAW : Barangsiapa yang bertaqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam bulan Ramadhan dengan satu bentuk kebaikan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan satu fardhu (kewajiban) di bulan lainnya. Dan siapa yang mengerjakan satu fardhu di bulan Ramadhan, maka samalah dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya. (Ibnu Khuzaimah).

kedua, dari segi kesehatan, sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa pada saat kita berpuasa, ada proses detoksifikasi di dalam tubuh yang efeknya membangun ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sehat. Selain terbukti menyehatkan, puasa juga membuat pikiran menjadi lebih tenang dan juga melambat. Uniknya, menurut penelitian ternyata pikiran yang melambat ini membuatnya justru bekerja lebih tajam. Selain itu ditinjau dari segi insting, masalah rasa lapar adalah masalah kelanjutan hidup sehingga wajar jika rasa lapar memaksa kita untuk berpikiran lebih tajam dan kreatif. Hal ini juga dibuktikan dengan suatu kasus pada sekelompok mahasiswa di University of Chicago yang diminta berpuasa selama tujuh hari. Selama masa itu, terbukti bahwa kewaspadaan mental mereka meningkat dan progres mereka dalam berbagai penugasan kampus mendapat nilai “REMARKABLE.”

ketiga, ketika kita berpuasa, waktu bekerja menjadi lebih panjang karena tidak tergangu dengan aktivitas untuk makan dan minum, yang pada gilirannya akan secara otomatis membantu kita untuk bisa mengoptimalkan waktu yang ada untuk bekerja. Memang pada hakikatnya bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat kewajiban puasa, bukan berarti membuat umat Islam menjadi lemah dan lesu dalam bekerja, bahkan bermalas-malasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Namun sejatinya, pada saat bulan Ramadhan tiba umat Islam diarahkan untuk meningkatkan amal ibadah dan taqarrub kepada Allah, dan mencari nafkah juga bagian dari ibadah serta sarana bertaqarrub kepada Allah. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda : Sesungguhnya, meskipun engkau memberikan nafkah kepada keluargamu sendiri, engkau tetap memperoleh pahala, sampai sekerat makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu. (Bukhari)

Spirit puasa itulah yang ingin dibangun di KPU Kabupaten Sidoarjo. Ibadah puasa tidak menghalangi untuk melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Sebagai contoh, saat ini KPU Kabupaten Sidoarjo tengah sibuk melakukan kegiatan penataan dan pengelolaan arsip/dokumen yang dimiliki mulai dari Tahun 2004 sampai dengan 2015. Meskipun kegiatan tersebut sudah barang tentu membutuhkan tenaga ekstra, karena kami harus membongkar, memilah, mengklasifikasikan dan menata arsip dari tahun 2004 sampai dengan 2015. Namun hal ini tidak menghalangi kami untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kami menyakini, sesungguhnya peningkatan produktivitas kerja yang terjadi pada bulan Ramadhan ini akan menjadi ujian awal untuk menguji etos kerja seseorang atau lembaga pada bulan-bulan selanjutnya. Jika etos kerja meningkat di bulan Ramadhan, maka sudah bisa dipastikan secara alamiah bahwa produktivitas kerjanya juga akan terus meningkat pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Semoga.


Share Berita


Komentari Berita