Home
kpusda
MENGUNGKAP MAKNA DIBALIK PENETAPAN 1 JUNI SEBAGAI HARI LAHIRNYA PANCASILA

MENGUNGKAP MAKNA DIBALIK PENETAPAN 1 JUNI SEBAGAI HARI LAHIRNYA PANCASILA


Kamis, 2016-06-02 - 09:15:26 WIB

Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.Pd.

Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo 

 
Ada yang terasa istimewa pada tanggal 1 Juni 2016 kemarin, sejarah baru dibuat oleh pemerintahan  Jokowi,  setelah  banyaknya desakan  dari berbagai elemen  bangsa baik itu LSM, ORMAS, maupun tokoh masyarakat, maka  bertempat di Gedung  Merdeka, Jl. Asia Afrika Bandung, pemerintah menetapkan 1 juni sebagai  Hari Lahir Pancasila dan menjadi Hari Libur Nasional melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2016 yang akan berlaku mulai  tahun 2017.

Sedemikian pentingkah Pancasila  bagi  bangsa Indonesia dan rakyat Indonesia, sampai – sampai  Presiden Republik Indonesia  ke-7  tersebut  harus mengeluarkan Keppres dan menjadikan  tanggal 1 Juni 2016 sebagai hari libur Nasional. Tentu pro dan kontra selalu ada seiring dengan dikeluarkannya  sebuah kebijakan, namun jika dicermati, maka lebih banyak pihak yang mengapresiasi dan menyambut  dengan positif kebijakan ini daripada mereka yang kontra. Ketua MPR RI,  Drs. Zulkifli Hasan,  misalnya, sangat mendukung langkah pemerintah untuk menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila dan menjadi Hari Libur Nasional. Zulkifli berpendapat bahwa sebagai ideologi, Pancasila harus terus dijaga, karena dengan Pancasila, sendi-sendi negara akan kokoh dan tak terkoyahkan sehingga kemungkinan masuknya ideologi lain bisa ditangkal. ”Oleh karena itu, mari kita terima 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Kita berharap dengan peringatan kelahiran Pancasila ini, kita menghargai karya besar para tokoh bangsa, jangan lupakan sejarah,” kata Zulkifli (koran-sindo.com, 02/06/16).

Terlepas dari pro-kontra, ada  beberapa  analisa  yang  bisa  dijadikan pemikiran  mengapa   kemudian  presiden  mengeluarkan Keppres  Nomor 24 Tahun 2016  tersebut ;

Pertama, Sejarah Bangsa. lahirnya Pancasila adalah bagian dari sejarah bangsa. Sebagai bangsa  yang  besar,  tentu  kita  tidak boleh melupakan sejarah, sebuah bangsa tidak akan pernah menjadi  besar kalau bangsa tersebut tidak pernah belajar dari sejarahnya, bangsa yang bijak adalah bangsa yang mengenal  sejarah bangsanya sendiri. Presiden  Republik Indonesia  pertama, Bung Karno,  dalam salah satu pidatonya berpesan kepada  seluruh  rakyat Indonesia untuk tidak melupakan sejarah perjuangan bangsa, yang kemudian dikenal dengan istilah “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, karena sejarah memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan sebuah bangsa. Peristiwa sejarah yang telah terjadi pada masa lampau dari sebuah bangsa itu akan menjadi sebuah pedoman atau pegangan hidup dari bangsa tersebut di masa sekarang dan di masa depan.

Demikian  juga dengan lahirnya Pancasila, bangsa Indonesia terutama  generasi penerus bangsa harus difahamkan betapa  berat perjuangan  pendahulu kita  dalam melahirkan Pancasila. Bagaimana ketika awal-awal persiapan kemerdekaan bangsa Indonesia, melalui proses yang panjang, para pendiri bangsa kita telah merumuskan sejarah awal pembentukan ideologi dan dasar negara Indonesia. Pada masa itu, sempat terjadi perdebatan antara tokoh-tokoh dari golongan Islam yang ingin Indonesia menjadi negara Islam dan tokoh-tokoh dari golongan lainnya yang ingin Indonesia menjadi negara sekuler, dan menyatakan keberatan terhadap rumusan awal ideologi yang menuliskan bahwa pemeluk agama Islam wajib mentaati syari’at Islam. Demi menjaga persatuan bangsa, para pendiri bangsa kita akhirnya sepakat dengan rumusan bahwa negara kita berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan sila pertama dari Pancasila dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI.  Hal lain yang menjadi titik penting dalam sejarah lahirnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia adalah saat terjadi insiden Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965. Penggiat insiden ini adalah PKI yang ingin mengubah ideologi negara dari Pancasila menjadi ideologi Komunis. Karena upaya kudeta ini gagal, pemerintahan orde baru memutuskan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila, menyimbolkan bahwa Pancasila menunjukkan kekuatannya (kesaktiannya) terhadap ideologi Komunis.

Kedua, Peran & Fungsi Pancasila. Pancasila memiliki fungsi dan tujuan yang mengatur sendi sendi bangsa.  Pancasila merupakan dasar Negara yang merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur Negara Republik Indonesia termasuk didalamnya seluruh  unsur-unsurnya, yakni  pemerintah, wilayah  dan rakyat.  Pancasila  juga  berfungsi  sebagai pandangan  hidup  bangsa Indonesia, nilai nilai  yang terkandung di dalam sila-sila Pancasila berasal dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dan Pancasila  adalah  jiwa  bangsa Indonesia, artinya  Pancasila lahir  bersama dengan lahirnya  bangsa Indonesia  dan Pancasila  memberikan ciri dan corak kepada bangsa Indonesia, dan inilah yang membedakan bangsa  Indoesia dengan  bangsa lain. Di sisi lain, Pancasila juga berfungsi sebagai falsafah hidup dan kepribadian bangsa Indonesia yang mengandung  nilai-nilai  dan  norma-norma yang oleh bangsa Indonesia diyakini benar, adil, bijaksana,  dan dapat  mempersatukan  bangsa Indonesia.

Pancasila muncul ditengah-tengah “kegalauan’ Bangsa Indonesia dalam memilih pijakan negara, ketika bangsa Indonesia harus memilih berdiri dengan ideologi Liberal atau Sosialis. Maka Pancasila muncul dengan membawa jawaban untuk mengambil jalan tengah diantara kepentingan individu dan kepentingan bersama. Pancasila sebagai dasar negara telah memberikan wadah bagi bangsa yang multikultural untuk dapat hidup berdampingan, mengedepankan aspek toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ketiga, Kepentingan Politik. Seolah sudah menjadi kemakluman bersama bahwa setiap  kebijakan yang dikeluarkan oleh presiden atau pemerintahan dinilai tidak pernah lepas dari kepentingan  politik  siapa  yang  berkuasa  saat itu,  begitu pula  kebijakan  terbitnya Keppres Nomor 24 Tahun 2016  tentu juga dilihat sebagai kepentingan partai penguasa, (dalam hal ini, PDIP), khususnya  dari keluarga  besar  Sukarno.  Dan hal  ini  tentu  sangat  wajar  karena ada keterikatan  emosional  antara  Presiden Jokowi yang berasal dari PDIP dengan bung Karno  sebagai  tokoh yang  melahirkan Pancasila. Dan  inilah   salah satu alasan menjadikan kenapa di era pemerintahan  Jokowilah tanggal 1 Juni  diumumkan sebagai  hari lahirnya Pancasila dan Hari Libur Nasional, sementara  6 Presiden  sebelumnya  tidak  mengeluarkan kebijakan  tersebut.

Namun demikian terlepas dari pro dan kontra sebab musabab terbitnya Keppres Nomor 24 Tahun 2016, yang terpenting  adalah  menjadikan  momentum  tanggal 1 Juni  sebagai  sejarah untuk  mengenang kembali  bagaimana Pancasila  diperjuangkan  di bumi pertiwi dan mengimplementasikan  nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.


Share Berita


Komentari Berita