Home
kpusda
Memaknai Idul Fitri

Memaknai Idul Fitri


Jumat, 2016-07-01 - 09:02:17 WIB

Jum'at, 01 Juli 2016

Oleh : Miftakul Rohmah, S.Ag., M.Pd

Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo

 

Tanpa terasa Hari Raya Idul Fitri sebentar lagi akan tiba, sudah bisa dipastikan hari raya ini di sambut dengan gembira oleh seluruh umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia sendiri ada tradisi unik, yakni tradisi untuk bersilaturahmi ke yang lebih tua atau lebih sering dikenal dengan halal bihalal, dan tradisi mudik. Setiap lebaran, umat Islam Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya tak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan, dan tak peduli jika harus bersusah payah berdesak-desakan, baik di bis ataupun di kereta. Lalu apakah sebenarnya  makna  dari Idhul Fitri itu sendiri.

Para alim ulama berbeda pendapat tentang makna dari Idul Fitri. Di antara perbedaan pendapat tersebut, diantaranya, sebagian ulama berpendapat bahwa Idul Fitri berasal dari dua kata, id artinya  kembali atau berulang, dinamakan id karena berulang setiap tahunnya. Sedangkan fitri berasal dari  kata afthara yang artinya berbuka, atau tidak lagi berpuasa dan kembali kepada aktifitas sebelum puasa yakni makan, minum dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan selama bulan ramadhan. Pendapat mereka ini merujuk pada salah satu hadist yang meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah pergi untuk sholat Idul Fitri tanpa makan kurma sebelumnya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra: Tidak sekalipun Nabi Muhammad SAW pergi untuk sholat pada hari raya Idul Fitri  tanpa makan beberapa kurma sebelumnya, Anas juga mengatakan : Nabi Muhammad SAW makan kurma dalam jumlah ganjil. (HR Bukhari).

Sebagian ulama lainnya memaknai Idul Fitri sebagai puncak/klimak dari pelaksanaan ibadah puasa  di bulan Ramadhan atau keberhasilan yang diperoleh setelah pelaksanaan ibadah puasa, atau disebut  juga hari raya kemenangan karena telah berhasil melawan hawa nafsu selama sebulan penuh. Sehingga hari raya dimaknai juga sebagai kembali kepada fitrah kesucian atau keterbebasan dari segala dosa dan noda, ibarat manusia layaknya seorang bayi yang baru dilahirkan kembali bersih tanpa dosa. Pendapat mereka ini berpegangan pada hadist nabi Muhammad SAW yang menyatakan  bahwa puasa Ramadhan dan segala aktivitas di dalamnya menghapuskan dosa-dosa terdahulu.        “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan didasari iman dan semata-mata karena Allah SWT, maka  di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu, Muttafaqalayh)

Meskipun terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dalam mendefinisikan makna Idul Fitri dengan argumentasi dan dalil masing-masing, sesungguhnya kedua-duanya sama-sama kuat  tinggal ditinjau dari sudut mana memaknainya. Ketika kita memaknai secara lahiriah,  sudah barang tentu dengan tibanya Idul Fitri maka menjadi bolehlah semua yang dilarang saat melaksanakan  puasa, sedangkan ketika kita melihat dari sisi subtansinya, maka dengan ibadah puasa kita diharapkan mejadi pribadi yang suci dan bersih, baik ketika Idul Fitri dan sesudah Idul Fitri. Dan Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama dalam mendefinisikan makna hari raya Idul Fitri, maka sesungguhnya kita sebagai bagian dari umat Islam haruslah mengambil ibroh/hikmah dari makna yang terkandung dari hari raya Idul Fitri tersebut, beberapa hikmah yang bisa kita petik di antaranya  adalah :

Pertama, Mempererat Hablul Minanash (hubungan sesama manusia), karena pada saat Idul Fitri inilah orang-orang saling bersilaturahmi dan saling memaafkan, saling melupakan permusuhan dan saling membuka lembaran baru.

Kedua, Memperkokoh Keimanan, di dalam merayakan hari raya yang terpenting adalah bagaimana  mencapai status Idul Fitri, yakni kembali kepada jiwa yang suci bersih.  Bukan sebaliknya  bagaimana   cara agar dapat beridul fitri atau merayakan Idul Fitri dengan kemewahan pakaian, dengan bertumpuk kue dan makanan. Karena dengan kesadaran seperti ini maka kita dapat menaklukan  hawa nafsu untuk berbuat maksiat dan menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang.

Ketiga, Menjadikan pribadi yang istiqomah. Hendaklah kita menjadi umat yang senantiasa istiqomah   taat kepada Allah. Ketaatan kita selama bulan Ramadhan, seperti ketaatan dalam sholat berjamaah, ketaataan dalam tadarus, ketaataan dalam bersodaqah, ataupun ketaatan dalam menahan hawa nafsu, harus terus dijaga dan dikawal sesudah bulan Ramadhan. Jangan sampai ketaatan kita pada  Allah SWT berkurang dan hilang seiring hilangnya bulan Ramadhan.

Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam pribadi-pribadi yang beruntung, yang mampu mengambil  hikmah dari Idul Fitri dan mampu memaknai Idul Fitri secara benar. Pada kesempatan yang baik ini pula izinkan saya sebagai pribadi dan sebagai bagian dari keluarga besar KPU Kabupaten Sidoarjo,  mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H dan dengan niat tulus iklhas dari sanubari yang dalam, memohon maaf yang sedalam-dalamnya apabila dalam proses pelayanan dan pembangunan demokrasi yang kami lakukan belum bisa memuaskan semua pihak dan jauh dari kata sempurna.  Mari di bulan yang penuh berkah ini kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam,  rasa amarah dan  kita ganti semua dengan kasih sayang dan rasa persaudaraan.


Share Berita


Komentari Berita