Home
kpusda
Dirgahayu ke-71 Tahun Bangsa Indonesia , Berharap Menuju Masyarakat Adil dan Makmur.

Dirgahayu ke-71 Tahun Bangsa Indonesia , Berharap Menuju Masyarakat Adil dan Makmur.


Selasa, 2016-08-16 - 11:38:44 WIB

Selasa, 16 Agustus 2016

Oleh : Miftakul Rohmah, S.Pd., M.Pd

Anggota KPU Kabupaten Sidoarjo

Tak terasa tepat tanggal 17 Agustus 2016, bangsa Indonesia menginjak usia 71 tahun, ibarat manusia usia 70 tahun adalah usia yang sangat matang kalau tidak mau disebut sudah tua. Lalu seiring dengan usia bangsa Indonesia yang sudah “tua“ akan juga menjadikan bangsa Indonesia menjadi rapuh dan sakit-sakitan ataukah sebaliknya menjadi bangsa yang penuh dengan kedewasaan dalam menghadapi problematika yang ada. Jika ditinjau dari segi kesehatan dan fisik, maka pada umur 70 tahun orang akan kehilangan kira kira 10 kg. otot, 15 persen tulang, dan 5 cm. tinggi badan dari sisi reproduksi bagi seorang wanita, bahkan pada usia 50 tahun saja hormon kewanitaan juga sudah menurun. Dan secara kesehatan sudah sering didera penyakit. Singkatnya ketika seseorang berada pada usia 65 tahun ke atas, maka seseorang dianggap memasuki usia lansia, usia dimana terjadi masa kemunduran fisik maupun mental.

Jika secara teori diusia 70 tahun seseorang mengalami penurunan secara fisik maupun kognitif, tetapi banyak juga kita jumpai kisah sukses pemimpin di dunia, di zaman Rosulullah kholifah Utsman bin Affan memimpin pada usia 69-70 tahun, lihatlah bukankah Habibie di usia 62 tahun, dan sekarang yang lagi akan bertanding di perebutan kursi Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton-pun berusia 69 tahun, demikian juga Donald Trump berusia 70 tahun. Dan ada pandangan, ketika manusia barada di usia 70 tahun, maka di sanalah kebijakaan dan kedewasaan seseorang akan terlihat sangat jelas dan nyata.

Disisi lain kita juga bisa belajar dari bangsa-bangsa lain di dunia, bagaimana kondisi bangsa mereka ketika mencapai usia 70 tahun. Paling tidak, kita bisa belajar sejarah tentang 2 negara adikuasa di dunia ini, yakni Amerika Serikat dengan faham kapitalisnya dan Uni Soviet dengan faham komunisnya. Ternyata Uni Soviet runtuh 26 Desember 1996 tepat berusia 70 tahun, tentu kita bangsa Indonesia tidak menginginkan mengalami nasib seperti Uni Soviet. Tentu sebagai bagian dari rakyat Indonesia berharap Indonesia menjadi Negara yang adil dan makmur yang dalam bahasa Qur’annya (Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghofur), sebuah negeri dimana masyarakatnya yang berhak mendapatkan haknya, yang berkewajiban akan melaksanakan kewajibannya dan yang berbuat baik akan mendapatkan anugrah sebesar kebaikannya, dan kehidupan masyarakat yang demikian dikenal juga dengan konsep masyarakat madani. 

Lalu apakah Bangsa Indoesia bisa sampai pada tataran di atas dan apa sajakah indikator menjadi Negara yang Baldatun Thoyibatun Wa Robbun Ghofur, dengan kehidupan seperti masyarakat madani. H. Syajrijal seorang ulama berpendapat bahwa dibutuhkan 4 pilar yakni, 1) adalam ulama yang berilmu, 2) Umara yang adil, 3) orang kaya yang dermawan, dan 4) orang fakir yang mau berdoa. Artinya disini adalah ulama harus berilmu karena menjadi tempat bertanya dari ke tiga unsur di atas. Pemimpin harus adil tanpa membeda-bedakan rakyatnya, orang kaya dermawan yang suka bershodakoh kepada yang membutuhkan, dan orang fakir berdoa untuk ulama, umara dan orang kaya.

Bagaiamana dengan kondisi bangsa kita, adakah 4 pilar konsep Negara Baldatun ada di Negara kita, ataukah salah satunya, mari kita telaah lebih dalam, 

1) Bangsa Indonesia adalah salah satu negara yang memenuhui konsep masyarakat madani, dimana civil socity hadir lebih dahulu dibandingkan negara itu sendiri, dan hal ini yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain. Hal ini bisa dilihat, jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka telah berdiri organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan keagaamaan seperti NU dan Muhammadiyah, bukankah NU di dirikan pada tanggal 26 Januari tahun 1926, dan bahkan Muhammadiyah jauh sebelum itu yakni pada tanggal 18 November 1912. Dan sudah diketahui bersama bahwa didirikannya NU yang berarti kebangkitan para Ulama adalah sebagai wadah berkumpulnya para ulama, sedang didirikannya Muhammadiyah tidak lain adalah untuk menanamkan keilmuwan bagi bangsa Indonesia sehingga bangsa Indonesia terhindar dari kebodohan yang pada akirnya bisa terlepas dari penjajahan. Sehingga dengan kata lain satu unsur telah terpenuhi.

2) Pemimpin atau umara yang adil, bangsa Indonesia sejak kemerdekaan tahun 1945 telah mengalami pergantian pemimpin sebanyak 7 kali mulai dari Soekarno sampai dengan Joko Widodo. Masing masing punya gaya dan karekter kepemimpinan yang berbeda, namun pertayaannya meskipun berbeda apakah mereka bisa dikatakan sebagai pemimpin yang adil, tentu cukup sulit untuk memberikan indikator terhadap pemimpin yang adil tersebut, tetapi setidaknya mereka yang memiliki keberanian dalam mencegah kemungkaran, sesuai antara perbuatan dan perkataan, mempuyai kecakapan dan kebijakan tetapi berakhlak dengan lemah lembut. Disisi lain, syaikh Ahmad Mustafa Al-Maraghi mengatakan bahwa para umara tidak hanya terbatas pada level pemimpin tertinggi yakni presiden, tetapi juga para hakim, para ilmuwan, pihak keamanan (TNI-Polri), pimpinan ormas, dan para Zuama (orang-orang yang membantu kesulitan umatnya). Dan masih banyak kita jumpai orang-orang baik di lembaga lembaga tersebut.

3) Terkait bagaimana sifat kedermawan orang-orang kaya yang punya kelebihan di Indonesia, sesungguhnya kita punya sederet nama untuk menggambarkan betapa banyak orang yang sebenarnya dermawan di negeri ini. Sebut saja nama Tahir, pemimpin Group Mayapada, orang terkaya ke-12 versi majalah Forbes, ia termasuk orang dermawan di dunia yang tergabung dalam Giving Pledge. Dia pernah menyumbang US$ 100 juta lewat Bill Gate Foundation untuk mengentaskan bencana kemiskinan, kesehatan dan pendidikan, belum lagi nama Anne Avantie mendirikan yayasan Kasih Bunda yang fokus menangani balita hidrochepalus, ada juga Irwan Hidayat, pemilik Sidomuncul Group ini setiap tahunnya menghabiskan biaya US$ 280 ribu untuk mengadakan mudik gratis, ada juga nama Wakil Presiden Yusuf Kalla yang aktif di Palang Merah Indonesia melalui Kalla Foundation menyumbang US$ 1.3 juta untuk membiayai anak miskin sekolah di wilayah Bone.

4) Indikator terakhir adalah orang-orang miskin banyak yang mendoakan ulama, umara, dan agniya. Sebenarnya hal ini adalah hal yang sangat lumrah terjadi jika ketiga golongan di atas menjalankan fungsinya secara benar. Contohnya ketika para agniya memberikan sebagain rizkinya kepada orang-orang miskin, tentu orang yang miskin akan mendoakannya. Meskipun belum didapatkan data apakah di Indonesia masih banyak orang miskin mendoakan ulama, umara dan agniya, tetapi paling tidak masih banyak orang kaya yang dermawan, masih banyak ulama yang dipercaya fatwanya, dan masih banyak umara yang menjalankan fungsinya secara benar adalah bukti dari wujud adanya doa orang miskin kepada mereka, karena jika orang miskin sudah tidak mendoakan mereka, maka mereka sudah hancur karena doa orang miskin sangat mustajabah.

Dan pada akhirnya kita masih tetap punya harapan dan optimisme bahwa bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar dan mampu mencapai derajat Baldatun Thoyibatun Wa Rabbun Ghofur dan masyarakat benar-benar cerminan masyarakat madani saling menhormati, saling manghargai yang tahu mana hak dan kewajiban. Dan terakhir tidak lupa saya mengucapkan Dirgahayu ke-71 tahun, bangsaku semoga menjadi negara yang maju, adil dan makmur. Semoga.


Share Berita


Komentari Berita