KPU TINGKATKAN MOTIVASI KINERJA DENGAN RECHARGING MOTIVATION
Get Adobe Flash player

Link Terkait

Home KPU TINGKATKAN MOTIVASI KINERJA DENGAN RECHARGING MOTIVATION

KPU TINGKATKAN MOTIVASI KINERJA DENGAN RECHARGING MOTIVATION

Senin, 16 September 2013

 Jakarta, kpu.go.id – Untuk pertama kalinya, Senin, (16/9) Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengadakan ceramah motivasi (Recharging Motivation) antara Komisioner KPU dengan jajaran Sekretariat Jenderal (Setjen) KPU dalam upayanya meningkatkan kinerja bagi lembaga. Ceramah motivasi yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama, Lantai II KPU, Jl. Imam Bonjol No. 29, Jakarta Pusat, itu mengusung tema “Upaya Pemberantasan Korupsi dan Anatomi Korupsi dalam Penyelenggaraan Pemilu”.
 
Hadir dalam kegiatan itu, Anggota KPU, Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Sigit Pamungkas, dan Divisi Organisasi Juri Ardiantoro yang didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) KPU, Arif Rahman Hakim, serta seluruh kepala biro, kepala bagian, kepala sub bagian, dan staf pelaksana di jajaran Setjen KPU.

Ceramah motivasi kali ini menghadirkan narasumber dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan yang hadir untuk memberikan ceramahnya Adnan Pandu Praja, Komisioner KPK.

Dalam sambutan selamat datang kepada narasumber dan para undangan, Komisioner KPU, Sigit Pamungkas menjelaskan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menghilangkan rasa jenuh dan penat pada seluruh pegawai, maka diperlukan ceramah-ceramah motivasi agar semangatnya terbarukan.

“Supaya kita dapat break sejenak, agar tidak terjebak pada rutinitas membuka-buka berkas, dan memberikan situasi psikologi para pegawai ke arah positif,” tutur Sigit dengan wajah yang penuh harap adanya pembaruan kejiwaan bagi pegawai di KPU.

Ia juga melanjutkan, “Kegiatan yang rencananya akan dilakukan dua mingguan ini, bertujuan pula agar tidak ada kejenuhan rutinitas kita semua dalam bekerja, bahasa sehari-harinya adalah perlu induksi,” terangnya.


Sementara itu, Adnan Pandu Praja, menjelaskan tentang korupsi politik (Political Corruption). Narasumber ini mengulas lembaga pemerintah apa saja yang banyak dan terbanyak melakukan tindakan korupsi, mengapa terjadi korupsi, dan dampak korupsi itu sendiri.

Adnan menjelaskan korupsi itu terjadi karena faktor terpaksa, memaksa, system, juga budaya. Faktor terpaksa karena ingin memenuhi kebutuhan hidup ini berhubungan dengan niat dan perilaku. Kalau memaksa, karena adanya sifat serakah seseorang, ini juga berhubungan dengan niat dan perilaku. Sedangkan faktor system, karena adanya system dan hukum yang memberikan celah bagi penyelenggara negara bertindak korupsi. Dan terakhir faktor budaya, ini digambarkan sesuatu yang memberikan imbalan bagi penyelenggara negara dianggap lumrah atau wajar.

Khusus terkait dengan korupsi politik, Adnan menerangkan mengenai dampaknya, yaitu tidak akan menghasilkan pemimpin bangsa yang berkualitas, meruntuhkan otoritas kekuasaan dan berkembangnya birokrasi kekuasaan yang in-efektif, menguatkan plutokrasi dalam system politik dan birokrasi, terakhir akan berdampak pada hilangnya kepercayaan publik terhadap proses demokratisasi.

Plutokrasi adalah suatu system pemerintahan yang mendasarkan suatu kekuasaan atas dasar kekayaan yang mereka miliki.

“Karena itu KPU sebagai lembaga yang menyaring dan menetapkan para politikus yang akan duduk di lembaga politik dan lembaga negara, perlu mengupayakan instrumen pengujian integritas para calon-calon yang akan dipilih itu,” pesan Adnan dalam ceramahnya.

“Karena integritas itulah yang akan menghindarkan dari penyalahgunaan wewenang (abuse of power) bagi penyelenggara negara yang terpilih,” tutup Adnan saat berceramah. (wwn)

Agenda Kegiatan